Sunday, May 20, 2012

Berasuransi Diusia Muda

Pernahkah terbayang oleh anda untuk melakukan investasi pada saat usia produktif anda? Kenyataannya banyak diantara karyawan atau eksekutif muda yang berpikir panjang atau menampik kesempatan untuk memulai investasi pada saat mereka memulai berkarir.

Sebagian besar perusahaan di Indonesia saat ini hanya memberikan gaji besar dengan tunjangan kesejahteraan menjadi satu dalam gaji yang mereka terima diakhir bulan. Perhitungan gaji mereka adalah gaji pokok bruto, yang didalamnya sudah termasuk tunjangan transport, tunjangan makan, tunjangan kemahalan, tunjangan kepemilikan kendaraan bermotor, tunjangan kepemilikan rumah dan lain sebagainya sebelum dipotong pajak penghasilan PPh 21. Kenapa demikian, karena secara administrasi dan perhitungannya menjadi lebih mudah ketimbang memisahkan antara gaji pokok dengan komponen - komponen tunjangan tersebut. Apa akibatnya, kebanyakan dari karyawan sangat sedikit sekali pandai dalam mengatur keuangan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka harus menyisihkan dan mengatur pos - pos untuk transport dan makan selama sebulan, untuk pemilikan rumah dan kendaraan bermotor dan untuk jaminan hari tuanya.

Dengan berasuransi diusia mudah terdapat banyak keuntungannya ketimbang mulai berasuransi pada saat usia yang sudah mulai menurun produktifitasnya. Saat ini dengan adanya unit link maka berasuransi tidak hanya mendapatkan proteksi tapi juga sekaligus berinvestasi. Beberapa keuntungan berinvestasi diusia muda atau produktif diantaranya sebagai berikut:
  1. Kesempatan untuk berkembang lebih besar. Pada umumnya sebagai fresh graduate, posisi yang kita dapatkan di perusahaan - perusahaan dimulai dengan posisi menengah kebawah. Jika kita mulai berangkat untuk berinvestasi dengan penghasilan yang kita dapatkan dimasa ini maka jika dimana karir seharusnya menjadi lebih baik kedepannya, maka bukanlah suatu hal yang susah untuk mengembangkan nilai investasi yang sudah kita mulai diawal dan kita akan lebih menghargai nilai investasi yang telah kita tanam sebelumnya dengan terus meningkatkan nilainya dan mengaturnya dengan lebih baik dan pandai. Karir diatas usia 35 akan lebih lambat ketimbang diusia 22 tahun misalnya, karena itulah masa - masa tersebut sering disebut masa - masa emas.
  2. Rentang waktu yang ada, jika diberikan umur yang panjang oleh Tuhan maka dengan memulai berinvestasi diusia muda akan jauh lebih berkesempatan untuk menanamkan dan mendapatkan hasil investasi yang lebih besar. Hampir mirip halnya dengan menabung, hanya saja berinvestasi dengan asuransi akan mendapatkan nilai tambah lainnya selain menabung.
  3. Resiko akan lebih kecil. Diusia yang muda memiliki kecendrungan tingkat kematian atau menderita penyakit akut yang lebih rendah dengan usia diatasnya. Kecendrungan ini juga akan mendukung rentang waktu yang tersedia untuk berinvestasi.
  4. Setelah menikah maka pengeluaran untuk biaya hidup yang harus kita keluarkan akan lebih bertambah, hal inilah yang sering menyebabkan berinvestasi diusia setelah menikah akan menjadi lebih sulit kelihatannya ketimbah pada saat masih lajang.
  5. Peningkatan nilai investasi yang signifikan. Saya pernah menulis diblog ini bahwa perbandingan dana pensiun yang kita terima dibanding nilai investasi melalui asuransi akan sangat jauh sekali selisih nilainya. Usia 55 tahun dengan dana pensiun yang sudah di-deduct dari gaji kita pada saat kita berusia 22 tahun akan tampak kesenjangannya jika kita sudah memulai berinvestasi dengan unit link diusia yang sama dan melakukan reedem pada usia 55 tahun. Kenapa demikian, karena nilai persentasi jaminan hari tua selalu flat walaupun faktor pengalinya yaitu gaji pokok akan terus meningkat pada umumnya, walaupun banyak dari kita yang sadar bahwa kenaikan gaji lebih sering sebagai penyelaras nilai inflasi yang juga ikut meningkat dari tahun ketahub sedangkan nilai investasi unit link tidak flat dan bisa dilakukan top-up secara berkala atau sekaligus.
Semoga artikel sederhana dan singkat ini dapat membuka pandangan dan menjadi inspirasi bagi pembaca kenapa sebaiknya melakukan investasi diusia muda atau produktif.
Pin It!

Wednesday, April 18, 2012

Kenapa Kita Harus Berasuransi

Ada beberapa fakta kenapa kita harus berasuransi. Manusia tidak akan lepas dari sesuatu yang namanya resiko, seorang bayi yang baru lahir sekalipun tidak lepas dari resiko. Pada kenyataannya kita tidak dapat menghindari sebuah resiko namun kita dapat mentransfer resiko yang akan timbul kepada pihak lain yang dapat mengurangi atau mengganti dampak dari resiko tersebut, asuransi bekerja seperti ini. Dengan berasuransi maka kita telah mentransfer resiko tersebut kepada pemberi asuransi dengan kompensasi materiil yang setidaknya dapat mengganti dampak dari resiko. Banyak contoh yang dapat kita ambil dalam kehidupan nyata, seperti salah satunya meninggal dunia. Kita tidak dapat menghindar dari ajal yang terus membayangi kita kapanpun dan dimanapun, jika kita sebagai tulang punggung keluarga maka kita dapat mengurangi resiko tersebut apabila kita meninggal dunia yaitu dengan meninggalkan warisan yang dapat digunakan oleh keturunan kita dalam melanjutkan kehidupannya. Berikut beberapa alasan yang kuat kenapa kita harus berasuransi, terutama bagi kita yang tinggal di Indonesia.
  1. Indonesia adalah negara rawan bencana tertinggi versi UN-ISDR (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana). Negara kita adalah negara yang termasuk rawan gempa, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor dan kebakaran. 
    • Indonesia termasuk ring of fire (cincin api), dimana di Indonesia terdapat pertemuan tiga lempeng tektonik Eurasia, India - Australia dan Pasifik yang tersebar dari Timur dan Barat. Daerah rawan gempa ini seluas 40 ribu km dan 81% gempa yang pernah tercatat termasuk gempa terbesar di ring of fire.
    • Indonesia juga memiliki gunung - gunung berapi yang aktif dimana secara historikal, beberapa ledakan gunung berapi di Indonesia adalah termasuk ledakan gunung berapi terdahsyat di dunia. Letusan gunung berapi terbaru adalah letusan Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 yang melumpuhkan belasan kota disekitarnya. Dan dampak ini masih menghantui hampir setahun lamanya.
    • Penggundulan hutan, tingkat curah hujan yang tinggi, sistem reboisasi yang tidak berjalan dengan baik dibandingkan dengan jumlah pembukaan hutan menjadi lahan persawahan, industri atau perumahan menyebabkan Indonesia rawan banjir dan longsor. Beberapa fakta menyebutkan banjir di Nias Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah dan Jawa Timur menimpulkan dampak kerugian trilyunan rupiah, puluhan ribu kepala keluarga dan ribuan rumah hancur dan terendam.
    • Jakarta adalah kota tertinggi jumlah kejadian kebakaran se Indonesia, tercatat 890 peristiwa kebakaran terhitung selama tahun 2011 atau sama dengan 15% dari penyumbang bencana di Indonesia. Terdapat 16.500 peristiwa kebakaran di 498 kota di Indonesia selama tahun itu.
  2. Masyarakat Indonesia yang relatif cenderung memiliki gaya hidup yang konsumtif dan berperilaku hedonis. Ini dapat dibuktikan dengan suksesnya peluncuran barang - barang elektronik dan otomotif di Indonesia. Indonesia adalah salah satu target pasar yang empuk untuk kategori barang - barang tersebut. Dengan demikian nilai investasi yang tersimpan di Indonesia masih terhitung relatif kecil ketimbang negara ketiga lainnya.
  3. Tingkat pengangguran yang tinggi. Tingkat populasi di Indonesia yang tinggi menyebabkan peluang kerja bagi penduduk produktif semakin kecil, apalagi Indonesia terkenal sebagai importir sembako di dunia. Pemerintah Indonesia lebih memilih menekan biaya import serendah - rendahnya ketimbang membuka pabrik atau menciptakan produsen - produsen lokal untuk mengolah hasil bumi negerinya sendiri. Dengan demikian maka ketergantungan perekonomian di Indonesia semakin tinggi kepada negara - negara produsen asal luar negeri. Jika sewaktu - waktu terjadi resesi ekonomi di dunia, maka Indonesia secara langsung akan merasakan dampaknya. Pendidikan yang kurang dan tidak merata juga menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat pengagguran di Indonesia, karena nilai persaingan yang rendah dengan negara - negara lainnya. Dengan kondisi seperti ini Indonesia memiliki potensi sebagai negara yang rentan terhadap krisis ekonomi dan juga berpotensi atas meningkatnya angka kriminalitas seperti pencurian, pembunuhan dan tidakan kekerasan lainnya yang dapat menyebakan hilangnya nyawa manusia.
  4.  Tingkat kesehatan di Indonesia termasuk yang terendah namun menyabet posisi tingkat kematian tertinggi di ASEAN. Kualitas dan gizi makanan tidak dan belum menjadi prioritas utama bagi keluarga di Indonesia saat ini, kebutuhan yang ingin serba cepat dan mudah adalah suatu pertimbangan efisiensi menurut mereka dalam pengadaan makanan yang akan dikonsumsi oleh keluarga mereka. Hal ini menyebabkan penduduk di Indonesia rentan terhadap penyakit dan memicu penyakit - penyakit menular dan jenis penyakit degenerasi berkembang dengan baik. Resiko kesehatan di Indonesia sangat memprihatinkan, begitu pula dengan kemampuan tim medis dalam menangani penyakit - penyakit yang timbul. Bahkan rasio kematian di Indonesia termasuk tertinggi di ASEAN, terutama tingkat kematian ibu dan bayi.
  5. Kehidupan politik yang tidak stabil. Suhu politik di Indonesia juga tidak banyak membantu dan mengarah kepada perbaikan, situasi politik di Indonesia mampu melumpukan perekonomian negara dan menggerogoti stabilitas nasional, seperti disintegrasi dan gampang dipecahbelah dan di-intervensi pihak manapun. Imbas politik di Indonesia yang sangat dahsyat terjadi pada tahun 1998 dimana huru - hara terjadi hampir merata di kota - kota besar di Indonesia dan diikuti oleh resesi ekonomi yang menyebabkan nilai mata uang rupiah anjlok sampai 12 ribu rupiah dari yang awalnya hanya 2000.
Dengan tingkat resiko, peluang dan penyebab resiko diatas, seharusnya kita menjadi lebih faham dan dapat bersikap lebih bijak serta antisipatif. Asuransi adalah salah satu solusinya. Dengan berasuransi berarti kita juga turut membangun Indonesia menuju negara yang sejahtera.

Secara awam asuransi bekerja sama halnya dengan arisan, sindikasi dana yang terkumpul dapan menutupi resiko dari para anggotanya, jika salah satu anggotanya tersebut membutuhkan bantuan atau sedang tertimpa musibah. Sistem ini telah berkembang lebih dari 1 abad lamanya dan kini banyak asuransi yang tidak hanya memberikan proteksi namun juga kesempatan untuk berinvestasi yang lebih dikenal dengan unit link.

Mari ikut membangun negara dengan berinvestasi yang aman dengan berasuransi. Sampai jumpa. (mfi)
Pin It!